3 Desember 2009 lalu, Azrul Ananda me-launching DBL 2010 di DBL Arena, Surabaya. Dalam peluncuran itu hadir berbagai perwakilan sponsor, tokoh dan bintang basket nasional. Selain itu yang paling ditunggu adalah hasil survey dari sponsor utama DBL, Honda.
Dalam survey tersebut, menunjukkan bahwa basket, terutama DBL menjadi kompetisi olahraga favorit kedua sebagian besar anak muda di Indonesia. Itu membuktikan bahwa dengan DBL, basket di Indonesia telah berkembang pesat. Karena itulah, sejak saat launching tersebut kepanjangan DBL bukan lagi DetEksi Basketball League, tetapi Development Basketball League (Liga Basket yang Berkembang).
Pertanyaannya, apakah tidak terlalu cepat DBL merubah namanya? Tidakkah Azrul terlalu cepat mengambil keputusan ini?
Tapi toh, walau nama panjang kompetisi ini diganti, singkatannya tetap DBL. Singkatan ini telah ramah di masyarakat untuk mengenal dan mengingat event ini. Jadi, tidak masalah jika nama dari kompetisi ini diganti dengan sembarang nama, asal bila disingkat tetap DBL.
Yang jadi masalah sekarang adalah kata “Development”-nya. Kata ini membuat kompetisi yang telah bertahan sejak 2004 ini seolah kompetisi ini adalah kompetisi “bapak-bapak”, padahal ini kompetisi basket pelajar. Kok bisa?
Coba kita cermati, sponsor (title partner) saat ini masih dipegang Honda. Bila nama “Honda” kita gabung dengan DBL maka menjadi “Honda DBL”. Kemudian bila kita menjabarkan namanya lagi, maka nama kompetisi ini akan menjadi “Honda Development Basketball League”. Jadi, Seakan seperti Honda yang memiliki kompetisi ini.
Tanpa disadari pula, kompetisi ini menjadi kompetisi yang penuh bisnis. Banyak bagian dari kompetisi ini yang segala sesuatunya “ditunggangi” sponsor. Contoh, permainan adu ketangkasan untuk penonton DBL dinamakan Tic Tac Toe. Permainan ini disponsori Honda, maka menjadi Honda Tic Tac Toe. Kemudian kontes 3-point untuk pemain, “Diikuti” Flexi maka menjadi Flexi Three Point Contest, dan lain-lain. Termasuk nama kompetisinya sendiri. Hmm, DBL memang terlalu termakan sponsor.
Kembali ke perubahan nama DBL. Perlu diketahui bahwa kompetisi basket ini berasal dari sebuah halaman anak muda Jawa Pos, DetEksi, yang hingga kini hampir satu dekade umurnya. Karena dari DetEksi, maka kompetisi ini dinamakan DetEksi Basketball League. Dengan semboyan “Pride”, kompetisi ini dibikin oleh anak muda, untuk anak muda.
Selain itu, DetEksi juga mengadakan DetEksi Mading, yang umurnya lebih tua ketimbang DBL . Kemudian pada 2007, kompetisi mading tahunan ini diubah namanya menjadi DetEksi Convention (Singkatan lebih ekstremnya : Det-Con). Seakan DetEksi menjadi raja anak muda karena dedikasinya untuk anak muda.
Mungkin DBL terinspirasi Det-Con untuk mengubah namanya. Namun dalam pergantian nama itu, DBL melupakan “kulitnya”. “Kulit” itu adalah DetEksi. Jikalau “DetEksi” harus diganti “Development”, masihkan DBL memihak anak muda?
***
Untuk pihak DetEksi, terutama pihak DBL Indonesia, tulisan ini saya buat untuk menanggapi perubahan nama kompetisi yang punya sejuta kenang-kenangan yang berarti bagi saya. Walau bentuk tulisan tidak jelas, saya berharap Anda mengerti maksud saya membuat tulisan ini. Lewat tulisan ini saya ingin mengkritisi keputusan Azrul Ananda, salah seorang yang menjadi inspirator saya dalam meneruskan cita-cita. Anda semua pasti mengerti bahwa kritik adalah masukan.
Intinya, saya hanya ingin memberitahu bahwa perubahan nama itu harus dipikir secara matang. Perubahan boleh saja, mengikuti motto surat kabar yang menaungi DetEksi : “Selalu Ada Yang Baru”. Namun bukan berarti sebuah trademark harus dihilangkan.
Kalaupun nama DBL harus diganti Development Basketball League, apakah si Det masih dibutuhkan dalam perheletan kompetisi DBL? Mungkin saja tidak, kan namanya sudah tidak disinggung lagi toh? Hehehe….
07 Februari 2010
Azrul Terlalu Cepat Mengambil Keputusan?
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)


0 omelan. Mau ngomel? Disini!:
Poskan Komentar